Aku semakin menjadi korban bullying
Semakin tua, saya merasa semakin menjadi korban pengucilan.
Saya tidak masuk universitas, jadi semua teman saya adalah teman dari sekolah menengah atas.
Teman dari sekolah menengah pertama adalah teman dari sekolah menengah atas, kan?
Sedikit teman masa sekolah yang saya miliki telah menikah, memiliki anak, dan menjalani kehidupan.
Saya hidup lajang dalam lingkungan yang berbeda, jadi secara alami kami menjauh dan hanya berhubungan setiap beberapa tahun sekali.
Setelah lulus dan menjalani kehidupan sosial selama 20 tahun di tempat yang sama, teman-teman sosial juga sama saja
Teman yang saya temui di masyarakat tidak semudah teman sekolah.
Intinya, karena tidak punya anak, tidak ada situasi di mana ibu teman anak saya menjadi teman saya juga.
Karena kepribadiannya yang ekstrovert, dia tidak suka keluar rumah atau menghadiri pertemuan seperti itu.
Saya menulis di judul bahwa saya sedang menjadi korban bullying, tetapi sebenarnya saya sudah menjadi korban bullying.









