단짝이 맛있긴한데 건강을 위해서 끊어야겠네요
8/12 (Senin) Menikmati 'manis asin' setiap hari... Apakah perubahan terburuk terjadi pada tubuh?
Di antara kata-kata tren, ada istilah '단짠'. Itu berarti setelah makan makanan manis, ingin makan makanan asin. Ada pendapat bahwa setelah makan makanan asin, harus disertai makanan manis agar rasa benar-benar terasa. Kebiasaan seperti ini adalah kebiasaan makan yang paling buruk dan merusak tubuh. Jika seseorang berada di usia paruh baya yang menua, risiko penyakit akan meningkat. Mengapa orang bisa secara sadar memasuki bahaya sendiri?
Saya juga sangat menyukai dan sering makan makanan manis dan asin, tetapi sekarang saya berusaha untuk tidak memakannya sebisa mungkin. Karena itu, jika makanan sedikit manis atau asin, saya merasa sulit untuk memakannya. Saya merasa lebih tertarik pada makanan yang sederhana dan gurih daripada yang manis dan asin. Belakangan ini, saya menyadari bahwa mengurangi makanan manis dan asin baik untuk kesehatan.
💢 Karena suka 'manis asin'... risiko obesitas, hipertensi, diabetes, hiperlipidemia, kanker lambung, kanker pankreas
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan otoritas kesehatan dari berbagai negara mengumandangkan "Kurangi gula, kurangi garam". Karena itu adalah jalan pintas yang merusak tubuh. Penyebabnya adalah penambahan berat badan, peningkatan tekanan darah, dan lonjakan kadar gula darah. Orang dewasa yang menua berisiko tinggi mengalami obesitas, hipertensi, diabetes, dislipidemia, kanker lambung, dan kanker pankreas. Bahkan orang muda juga tidak terkecuali. Gula, fruktosa cair, dan gula sederhana lainnya diserap tubuh dengan cepat dan menyebabkan lonjakan kadar gula darah yang tajam, yang menjadi penyebab obesitas. Itulah sebabnya berbagai negara di dunia menekankan pentingnya mengurangi konsumsi gula.
Orang yang selalu menambahkan garam... memiliki risiko kanker lambung 41% lebih tinggi.
Baru-baru ini, sebuah jurnal ilmiah internasional 'Gastric Cancer' mempublikasikan bahwa orang yang selalu menambahkan garam saat makan memiliki tingkat kejadian kanker lambung 41% lebih tinggi. Hasil ini didasarkan pada pengamatan selama 11 tahun terhadap 471.144 orang Inggris tanpa kanker dengan rata-rata usia 56 tahun. Garam merusak sel epitel lambung, memudahkan penetrasi bakteri Helicobacter pylori yang menyebabkan kanker lambung, dan meningkatkan penyerapan zat karsinogen seperti N-nitrosos. Untuk mencegah kanker lambung, sebaiknya kita mulai dari menghilangkan garam dari meja makan.
💢“Sekarang ubah kebiasaan 'manis-gurih'”… Harus hentikan lingkaran setan obesitas–penyakit
Jika asupan natrium meningkat, rasa haus menjadi lebih parah sehingga mencari minuman manis. Ini adalah siklus setan yang berujung pada peningkatan kadar gula darah, obesitas, dan penyakit. Kita juga harus mengonsumsi garam. Namun, masalahnya adalah orang Korea mengonsumsi 2 hingga 3 kali lipat dari jumlah yang direkomendasikan oleh WHO (5g). Diperlukan upaya untuk mengurangi penggunaan gula sederhana, misalnya dengan memanfaatkan bawang bombay untuk memberi rasa manis. Sebelum mencicipi rasa, mari hentikan kebiasaan menambahkan garam dan gula terlebih dahulu.
Sulit untuk melepaskan diri dari kebiasaan 'manis asin'. Akibatnya sangat mengerikan. Bahkan kanker pankreas yang sulit diobati semakin terkait dengan makanan seperti diabetes. Bahkan bagi mereka yang berusia 50-60 tahun, yang merupakan lebih dari 50% dari pasien kanker, pola makan harus diubah.
Sumber: Komedi.com