Menolak dengan lembut, 7 alasan terbaik yang direkomendasikan oleh psikolog
Kalimat ini menyimpang dari semua reaksi yang diharapkan oleh lawan, seperti penolakan, penerimaan, atau penghindaran. Ini benar-benar jawaban yang sangat ambigu. Lawan mungkin merasa frustrasi, tetapi sulit untuk menawarkan alternatif. Dalam psikologi, ini disebut sebagai teori timbal balik timbal balik. Sulit untuk menganggap orang yang menyatakan bahwa mereka menyukai usulan tetapi sulit menemukan solusi karena situasi yang sulit sebagai beralasan. Ini memberikan kesan penolakan yang halus sekaligus menunjukkan bahwa orang tersebut sopan.
➋ "Pasti di kesempatan berikutnya!"
Menunjukkan kemungkinan di masa depan membuat penolakan lebih mudah diterima. Karena manusia cenderung menilai situasi secara lebih positif ketika berpikir ke arah masa depan. Jika membandingkan secara langsung antara 'sekarang' dan 'berikutnya', efeknya akan dua kali lipat. "Kali ini saya benar-benar tidak punya waktu, tapi lain kali pasti kita bertemu." Jika menganggap penolakan sebagai situasi jangka pendek, luka yang diterima oleh lawan juga dapat dikurangi.
➌ “잘 몰라요”
Manusia memiliki naluri untuk menghindari ketidakpastian. Berkat itu, menjawab tidak tahu saat diminta sesuatu berfungsi sebagai cara penolakan yang sangat efektif. Semakin singkat dan jelas, semakin baik. 'Saya menolak' membuat lawan bicara ingin menyelesaikan sikap penolakan saya, tetapi 'Saya tidak tahu' membuat mereka berpikir bahwa mereka harus mencari orang lain.
"Ini akan memakan waktu sedikit"
Ini adalah kalimat penolakan yang terkenal karena efektivitasnya. Menurut teori disonansi kognitif, manusia cenderung menyesuaikan diri jika lawan bicara merasa keberatan dengan permintaannya. Lebih efektif daripada menolak secara langsung adalah membuat lawan bicara menyimpulkan sendiri kesulitan yang saya alami. Kepada atasan yang langsung memberi banyak pekerjaan begitu saya masuk kantor, katakanlah, "Ya, saya mengerti. Tapi sepertinya akan memakan waktu lama. Boleh saya mengajukan lembur hari ini?" Ini terdengar alami dan memberikan efek penolakan yang efektif.
➎ "Saya belum siap"
Secara psikologis, alasan yang paling sering digunakan sebenarnya adalah alasan yang paling alami. Persiapan untuk menikah, persiapan untuk berganti pekerjaan, persiapan untuk berbicara, persiapan untuk menerima usia... Tidak tahu pasti apa yang belum siap, tetapi selalu berhasil. Ini disebabkan oleh teori keputusan diri. Menurut penelitian, pendapat yang menekankan keadaan kesiapan dan menuntut otonomi pilihan cenderung lebih dihormati. Bahkan tanpa penjelasan situasi spesifik atau perkiraan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk siap, hasilnya tetap sama. "Saya belum siap" adalah sinyal tak sadar kepada lawan bicara untuk 'hormati otonomi saya', sekaligus menjadi kalimat ajaib yang membuat orang lain memahami saya.
➏ "Ini di luar kemampuan saya"
Mungkin kamu berpikir, "Haruskah aku mencari alasan penolakan dengan merendahkan diriku sendiri?" tetapi itu efektif. Menurut teori pengaturan batas, sikap mengakui batasan diri sendiri memberikan ketenangan psikologis kepada orang lain. Bahkan, itu memberi kesan bahwa kamu jujur dan dapat dipercaya. Jika kamu menolak dengan mengatakan bahwa itu di luar kemampuanmu, jangan khawatir jika orang tersebut meremehkan kemampuanmu setelahnya. Itu adalah bukti bahwa mereka pelit.
➐ "Waktunya tidak cukup"
Jika menyebutkan alasan eksternal, lawan bicara cenderung menerima penolakan dengan lebih tidak pribadi dan malah menunjukkan sikap berusaha memahami. Ini berdasarkan teori atribusi, dan kata kunci yang paling efektif tentu saja waktu. Karena ini adalah alasan universal yang dapat dipahami oleh siapa saja dan merupakan masalah yang sangat realistis.
Sumber: GQ
*Haha, saya cukup pandai menolak.
Kalau tidak suka, ya tidak suka, jadi tidak perlu dipaksa untuk menerimanya
Saya rasa tidak ada, dan saya tampaknya menggunakan ketujuh hal di atas dengan tepat. Saya juga merasa bahwa penolakan perlu dilakukan saat diperlukan~~~









