참고할게요 감사합니다.
12 aturan yang membantu mencegah demensia
Apa itu demensia? Demensia adalah kondisi di mana seseorang yang sebelumnya menjalani kehidupan normal mengalami penurunan fungsi kognitif di berbagai bidang seperti daya ingat, kemampuan berbahasa, dan kemampuan menilai, akibat kerusakan otak yang disebabkan oleh berbagai faktor, sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari secara signifikan.
Demens adalah salah satu penyakit yang mendesak untuk dicegah demi masa tua yang sehat bagi kita semua, dengan memperbaiki gaya hidup dan pengelolaan yang tepat, risiko terkena demens dapat dikurangi. Mari kita pelajari 12 aturan yang membantu mencegah demens.
Berolahraga secara teratur minimal 3 kali seminggu
Olahraga secara teratur meningkatkan aliran darah ke otak dan merangsang aktivitas sel otak, sehingga mengurangi risiko terjadinya demensia.
Secara khusus, disarankan melakukan latihan aerobik dengan intensitas sedang lebih dari tiga kali seminggu, di mana detak jantung lebih cepat dari biasanya dan napas sedikit terengah-engah, tetapi masih dapat berbicara.
2. Jangan merokok
Risiko terkena demensia pada perokok adalah 1,59 kali lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Selain itu, merokok dapat menyebabkan berbagai jenis kanker, penyakit kardiovaskular, dan penyakit pernapasan.
Jika sulit berhenti merokok sendiri, ikuti berbagai program dukungan berhenti merokok yang didukung oleh pemerintah.
3. Makan makanan sehat yang berfokus pada buah-buahan dan sayuran segar, serta ikan
Makan sehat memainkan peran penting dalam pencegahan demensia. Terutama, menjaga pola makan sehat seperti diet Mediterania yang kaya akan buah-buahan segar, sayuran, dan ikan telah terbukti mengurangi risiko terjadinya gangguan kognitif ringan dan demensia.
4. Kurangi atau hindari minuman keras
Minum alkohol berlebihan adalah faktor risiko langsung untuk perkembangan demensia. Konsumsi alkohol berlebihan dan mabuk diketahui meningkatkan kemungkinan gangguan kognitif sebanyak 1,7 kali lipat.
Diketahui bahwa orang yang secara kebiasaan minum berlebihan mulai dari masa paruh baya hingga usia lanjut memiliki kemungkinan 2,6 kali lebih tinggi mengalami gangguan kognitif dibandingkan dengan orang yang tidak demikian.
Hindari konsumsi alkohol yang berlebihan dan sebaiknya tidak minum lebih dari tiga gelas sekaligus saat sekali minum.
Lakukan latihan kognitif pencegahan demensia secara konsisten
Pelatihan kognitif meningkatkan fungsi kognitif otak pada orang sehat dan penderita demensia. Di dalam negeri, telah dikembangkan metode pelatihan kognitif yang menggunakan surat kabar untuk mencegah demensia yang disebut 'Dugeun Dugeun Latihan Otak'.
Melalui latihan kognitif pencegahan demensia, secara konsisten meningkatkan fungsi kognitif otak.
6. Terus berpartisipasi dalam kegiatan sosial
Kegiatan sosial memiliki pengaruh positif terhadap kesehatan dan kualitas hidup secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting untuk sering menghubungi keluarga dan teman serta terus berpartisipasi dalam kegiatan sosial.
Kegiatan sosial yang mudah diikuti meliputi sukarela, kegiatan keagamaan di gereja, kuil, atau tempat ibadah lainnya, serta partisipasi dalam program pusat kesejahteraan dan balai lansia.
Jika terus aktif berpartisipasi dalam kegiatan sosial, kecepatan penurunan fungsi kognitif dapat diperlambat.
Menjaga berat badan yang sesuai
Pada orang yang memiliki berat badan kurang atau obesitas, risiko terkena demensia meningkat dibandingkan dengan orang yang memiliki berat badan normal. Untuk mencegah demensia, menjaga berat badan dalam kisaran normal pada tingkat tertentu sangat membantu.
8. Mengelola tekanan darah secara teratur
Pada pasien dengan hipertensi yang tidak terkontrol, kerusakan kecil dan halus pada pembuluh darah otak dapat terjadi berulang kali, sehingga meningkatkan risiko terjadinya demensia.
Secara khusus, diketahui bahwa pasien hipertensi memiliki risiko demensia 1,61 kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa biasa. Oleh karena itu, tekanan darah harus diperiksa secara rutin agar hipertensi tidak terjadi, dan jika hipertensi sudah terjadi, gaya hidup harus disesuaikan dan pengobatan dengan obat harus dilakukan secara berkelanjutan untuk mengendalikan tekanan darah.
9. Mengelola diabetes secara rutin
Meskipun alasan atau penyebab mengapa diabetes mempengaruhi kejadian demensia belum sepenuhnya jelas, pasien diabetes diketahui memiliki risiko demensia sekitar 1,46 kali lebih tinggi dibandingkan dengan orang dewasa biasa.
Selain itu, pasien diabetes dapat mengalami komplikasi seperti kerusakan ginjal, retinopati, gangguan pendengaran, dan penyakit kardiovaskular, dan komplikasi ini juga meningkatkan risiko terjadinya demensia.
Oleh karena itu, jika didiagnosis menderita diabetes, kita harus mengubah gaya hidup agar metabolisme tubuh berjalan secara normal dan terus mengelola diabetes melalui pengobatan.
10. Mengelola kolesterol secara rutin
Setelah masa paruh baya, penting untuk secara teratur mengelola kolesterol guna mengurangi risiko penurunan fungsi kognitif dan munculnya demensia.
Salah satu cara paling efektif untuk mengelola kolesterol adalah mengurangi konsumsi makanan yang mengandung banyak lemak jenuh.
Namun, jika kadar kolesterol dalam darah sudah tinggi dan didiagnosis sebagai dislipidemia, maka harus mengonsumsi obat penurun lipid dan rutin mengunjungi rumah sakit untuk mengelola kolesterol secara teratur.
Mencegah dan mengobati depresi
Depresi, salah satu faktor risiko demensia, diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya demensia sekitar dua kali lipat.
Depresi dapat dengan cepat membaik melalui dukungan dan dorongan dari sekitar, konsultasi dengan profesional, serta pengobatan dengan obat.
Sementara itu, bahkan pada depresi usia lanjut yang sederhana, gejala seperti penurunan daya ingat dan gangguan perhatian dapat muncul, jadi jika gejala ini muncul, sebaiknya segera berkonsultasi dengan profesional medis.
12. Jangan abaikan gejala penurunan pendengaran begitu saja
Ketika usia bertambah, organ pendengaran mengalami penuaan sehingga suara tidak terdengar sebaik sebelumnya, membuat percakapan dengan orang lain menjadi sulit, dan terkadang menyebabkan gangguan perilaku serta gangguan psikososial.
Menurut penelitian hingga saat ini, kehilangan pendengaran dilaporkan dapat meningkatkan risiko terkena demensia sekitar dua kali lipat.
Oleh karena itu, jika gejala penurunan pendengaran muncul, perlu mendapatkan pengobatan dari profesional dan menggunakan alat bantu dengar untuk meningkatkan kualitas hidup.
[Sumber] Korea Policy Briefing (www.korea.kr)
---------------------------------------------------------------
Minuman keras dan rokok benar-benar tidak berguna dan berbahaya...
Olahraga dan komunikasi dengan orang sekitar juga sangat penting ~
Semangat untuk tubuh yang sehat~